Tiga Generasi Pelestari Budaya dari Sanggar Watublapi, SikkaSejak remaja saya memang gandrung sekali dengan kain tradisional. Saat itu saya lebih mengenal batik khususnya. Saya punya koleksi berbagai kain batik, baik sengaja membeli maupun hadiah, termasuk batik dari Madura yang terkenal dengan warna-warna yang berani yang saya beli dari seorang teman dari Madura. Nah, saat saya bertugas di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dan sejak mengenal tenun ikat, ternyata kegandrungan saya akan kain tradisional semakin merajalela. Saya betul-betul teracuni dengan keelokan dan kekayaan seni tenun ikat. Sebagai salah satu surganya tenun ikat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, bila Anda pegandrung kain tradisional seperti saya, patut diingat kata seorang teman saya, “Siapa sih yang kuasa tak terpikat dengan tenun ikat saat berada di Flores?” Terlebih setelah membaca tulisan saya berikut ini, dijamin Anda akan terpikat dan terjerat tenun ikat Flores.

 

 

 

Tenun ikat dalam masyarakat Flores menjadi bagian yang erat dan selalu ada dalam putaran kehidupan mereka sehari-hari. Dari sejak dilahirkan hingga meninggalkan dunia fana. Dengan keragaman etnis dari ujung timur hingga barat, setiap tenun ikat Flores mewakili keragaman tradisi dan budaya keseharian masyarakatnya masing-masing. Hal ini dapat dilihat dari motif dan teknik yang berbeda antara satu etnis dengan etnis yang lainnya. Bahkan untuk satu etnis, terdapat motif-motif khusus yang dipakai hanya untuk klan tertentu saja. Tenun ikat pada akhirnya bukanlah semata sebuah kain, namun juga menjadi simbol status, kekayaan, kekuasaan, dan martabat. Oleh sebab itu, berbagai motif tenun ikat diciptakan begitu unik, khusus, dan sarat lambang. Dalam setiap lembar kain ikat, motif menjadi tidak hanya sekadar gambar dan hiasan. Motif mempunyai makna dan fungsi yang sangat dalam dan menjadi bentuk pengejawantahan dari sebuah lambang etnis, fungsi religius, ritual adat, doa, hingga makna khusus lain yang dikaitkan dengan siklus kehidupan. Bahkan terdapat beberapa motif pada kain ikat, disertai teknik, proses pembuatan, dan asalnya, yang kemudian dianggap mempunyai kekuatan magis tertentu dan penggunaannya hanya boleh dalam ritual adat dan oleh pemangku adat. Motif-motif ikat pada akhirnya menjadi sebuah identitas kuat dari masyarakat masing-masing. Sekilas nampak sama, bagi masyarakat Flores adalah mudah membedakan motif sarung tenun ikat dari Nagekeo dengan Ngada, tenun Lio dengan Sikka, tenun Sikka Tana Ai dari Palu’e dengan Tana Ai dari Waiblama.

Merunut pada sejarah, seni tenun ikat dalam tradisi dan budaya keseharian masyarakat Flores tidak lepas dari perjalanan seni tenun ikat mancanegara sendiri, khususnya dari India. Dari beberapa literatur sejarah, diketahui bahwa seni tenun ikat ternyata dikenal dan tersebar tidak saja di berbagai masyarakat Asia, namun hingga ke Amerika Tengah dan Selatan, juga Jepang. Bahkan dalam jalur perdagangan ”Jalan Sutera“ dikisahkan bahwa tenun ikat menjadi salah satu mata dagang nan penting pada masa itu. India, dari jalur perdagangan dan juga pengembaraan para pedagang Gujarat ke wilayah Nusantara pada masa lalu, memberikan pengaruh yang kuat dalam tradisi dan pengembangan seni tenun ikat di Nusantara, termasuk Flores. Pengaruh ini, dalam motif misalnya, salah satunya dapat diketahui dengan penggunaan motif “patola” yang juga dikenal dalam budaya India. Pada perkembangan selanjutnya, dengan semakin terbukanya jalur penjelajahan dunia dimana para pelaut Portugis masuk dari wilayah timur Flores dan juga kehadiran para misionaris dari Eropa memperkaya seni tenun ikat di Flores dengan motif-motif Eropa. Seni tenun ikat dari Suku Sikka yang tinggal di sebagian besar wilayah Kabupaten Sikka terkenal mempunyai keragaman motif yang banyak mengadopsi dari kehadiran bangsa-bangsa tersebut yang dapat dilihat hingga saat ini. Pengaruh dari suku lain di Nusantara ini juga dapat dilihat pada seni tenun ikat dari Manggarai yang konon dipengaruhi oleh Suku Minangkabau dengan bukti ragam hias songket pada tenunnya. Dari seni karya tenun ikat ini, kita tidak saja bisa belajar tentang masyarakat Flores dan filosofinya yang begitu dalam dan penuh makna, namun juga tentang sebuah perjalanan sejarah hubungan antar berbagai suku bangsa yang dapat ditelusuri dan dipelajari dari jejak-jejak akulturasinya.

 

MENGAPRESIASI TENUN IKAT TRADISIONAL MELALUI PROSESNYA

Pembuatan tenun ikat tradisional tidak seperti pembuatan sebuah produk masal dan pabrikan. Emosi, hasrat, dan rasa dari pembuatnya terjalin dalam setiap prosesnya. Secara garis besar, ada empat tahapan pembuatan tenun ikat tradisional tersebut, yaitu:

  1. Tahap awal: pembuatan benang pintal tangan,  dimulai dari pemanenan, penjemuran, dan pemisahan kapas dari bijinya dengan menggunakan alat tradisional dari kayu yang dilanjutkan dengan proses penghalusan kapas dengan alat seperti busur panah. Setelah halus, kapas dibentuk menjadi gulungan agar mudah ditarik dalam proses pemintalan menjadi benang yang semuanya dilakukan secara manual. Saat ini, benang katun pabrikan sangat mudah didapatkan sehingga memberi variasi pada hasil tenunan nantinya. Untuk kain dari pemintalan kapas biasanya hasilnya menjadi lebih tebal dan berat. Tentu saja ini dapat mempengaruhi harga jual dari tenun ikat tersebut. Kain-kain semacam ini biasanya dibuat untuk maksud atau upacara tertentu.
  2. Tahap kedua: pembuatan motif, tahapannya adalah persiapan benang pakan, perentangan benang di alat pemidang, dan persiapan tali atau bahan pengikat yang biasanya digunakan tali dari daun gebang meskipun saat ini banyak penenun yang mempergunakan tali rafia sebagai pengikat untuk alasan praktis. Terakhir dari tahap ini adalah pengikatan benang mengikuti motif yang diinginkan. Proses ini sangat mengandalkan ingatan, ketelitian, dan ketekunan pembuatnya.
  3. Tahap ketiga: pembuatan bahan pewarna dan pewarnaan pada benang-benang yang telah diikat sesuai dengan motif yang diinginkan. Tahapan ini berbeda dalam langkah awalnya  tergantung dari masing-masing warna yang diinginkan. Proses terakhir setelah pencelupan adalah penjemuran sebelum benang-benang yang telah memperoleh warna masing-masing tersebut ditenun dengan penuh kesabaran.
  4. Tahap terakhir: penenunan. Prosesnya dimulai dengan membuka seluruh ikatan motif, menyusun ulang motif, dan merentangkan benang non-ikat di antara benang bermotif, pengerasan benang yang biasanya menggunakan kanji dari biji asam, menyusun benang dan membuat jalur benang pakan, persiapan benang pakan, dan penenunan itu sendiri.

Lamanya proses pembuatan satu kain tergantung dari ukuran dan bahan dasar benang yang dipakai. Sering dikatakan prosesnya hingga tahunan karena pada dasarnya banyak ibu-ibu melakukan penenunan ini sebagai kegiatan sambilan di sore hari selepas dari kebun yang dalam sehari mereka hanya mengerjakan dua-tiga jam saja. Namun dengan tumbuhnya kelompok atau sanggar penenun yang memang mempunyai target produksi, para anggota kelompok biasanya melakukan kegiatannya sepanjang hari dan bukan sebagai sambilan.

Berbicara mengenai kualitas warna yang bagus (artinya tidak pudar saat dijemur dan dicuci),  pencelupan benang harus dilakukan berkali-kali dengan campuran yang tepat. Untuk kain besar biasanya diwarnai selama tiga bulan (pewarnaan dan fermentasi). Warna-warna ini, untuk biru dan hitam, didapat dari olahan daun nila atau tarum (Indigofera tinctoria), warna merah dari akar mengkudu (Morinda sp), kuning dari kunyit, hijau dari sejenis daun kacang-kacangan, sementara coklat dari akar bakau. Sudah terbayang kan kerumitan dan lama prosesnya? Tak heran selembar kain tenun ikat, terlebih bila benangnya dari pintalan kapas manual dan warnanya dari bahan alam, nilainya bisa jutaan Rupiah.

 

MELESTARIKAN TENUN IKAT DENGAN PEWARNA ORGANIK

Kehadiran pewarna kimia dalam praktek tenun ikat saat ini memang tidak terelakkan. Banyak para penenun yang sebelumnya menggunakan pewarna organik yang bahan-bahannya tumbuh di sekitar halaman rumah yang sejak dulu telah digunakan secara turun-temurun oleh para leluhur mereka kemudian beralih ke pewarna kimia. Lebih praktis menjadi alasan utama, selain lebih mudah didapatkan, juga murah harganya. Meskipun begitu,  ternyata masih ada kelompok-kelompok penenun yang tetap mempertahankan penggunaan pewarna organik untuk karya tenun ikatnya. Mengapa mereka tetap mempertahankan? Saat berdiskusi dengan kelompok penenun dari Sanggar Bliran Sina di Desa Watublapi, Kabupaten Sikka dan Sanggar Bou Sama Sama di Desa Ndona, Kabupaten Ende, beberapa hal ini menjadi latar belakang timbulnya komitmen tersebut.

Pelestarian warisan budaya bangsa: karya seni tenun ikat merupakan bentuk kekayaan intelektual dan kearifan lokal masyarakat adat sehingga perlu dilestarikan dan dijaga. Selain itu, kedua kelompok di atas juga selalu aktif menggali motif-motif dan teknik-teknik tenun ikat tradisional dalam pembuatan karya tenunnya.

Berwawasan lingkungan: dengan penggunaan warna organik, berarti turut melestarikan lingkungan hidup. Dengan menjaga dan menanam kembali tanaman pewarna lokal seperti di yang ada di Flores ini akan cukup membantu penghijauan dan juga menjaga tingkat kesuburan tanah serta persedian air tanah. Juga air limbahnya tidak berbahaya bagi lingkungan, bahkan ampasnya dapat menjadi pupuk bagi  tanaman.

Kesehatan ibu dan anak: penggunaan bahan pewarna organik, berbeda dengan bahan kimia, tidak berbahaya bagi kesehatan, baik si penenun itu sendiri (ibu) dan anaknya (terutama bagi yang sedang hamil dan menyusui).

Kesetaraan peran perempuan dalam keluarga: yaitu dengan kembali melestarikan tenun ikat tradisional berarti turut membantu kaum ibu (perempuan) untuk memiliki penghasilan sendiri sehingga dapat membantu ekonomi keluarga dan pemenuhan kebutuhan pangan serta nutrisi bagi keluarga. Tujuan akhirnya adalah mengangkat status sosial kaum perempuan di dalam keluarga.

Mengangkat ekonomi kerakyatan: membuat tenun ikat tradisional adalah salah satu cara membantu masyarakat dalam menambah pendapatan keluarga yang tidak membutuhkan modal besar karena kegiatan dilakukan hanya menggunakan peralatan lokal dan sederhana, cukup memanfaatkan lingkungan, serta adanya kemauan. Pelestarian kerajinan tenun ikat tradisional adalah bentuk upaya murni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat itu sendiri.

 

 

TERTARIK MEMBELI TENUN IKAT SAAT DI FLORES?

Saya yakin kini apresiasi Anda pada tenun ikat makin tinggi dan semakin terpikat untuk membelinya setelah membaca informasi sebelumnya. Apalagi bila saat ini Anda sedang berlibur atau akan berlibur ke Flores, membawa tenun ikat sebagai kenang-kenangan tidak boleh terlewatkan. Nah, ada banyak tempat bila ingin berburu tenun ikat di Flores. Selain di toko-toko cinderamata yang selalu ada di hampir seluruh ibukota kabupaten, atau desa-desa wisata seperti di Kampung Bena, Wae Rebo,  favorit saya tentunya di pasar-pasar tradisional.  Hanya saja beberapa pasar tradisional ini memang tidak buka setiap hari, istilahnya hanya buka saat “hari pasar”. Namun, koleksi ikat yang dijual bisa sangat beragam, malah bisa jadi langsung dijual oleh mama penenunnya, dan tentunya lebih asyik untuk kita tawar menawar. Eh, tawar-menawar itu, apalagi di pasar tradisional, diperbolehkan kok. Yang penting, setelah mengetahui cerita di balik sebuah tenun ikat, Anda lebih bisa menghargai karya kerajinan ini dan menawar dengan harga yang pantas karena tak jarang para penjual tenun rela melepaskan tenunnya di bawah harga pasaran hanya supaya segera mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya.

Bila Anda kebetulan saat ini sedang berada di Flores dan bertepatan dengan hari pasar di tempat-tempat berikut, inilah saat yang tepat untuk berburu tenun ikat. Jangan lupa, siapkan diri dan teguhkan iman Anda untuk tidak tergoda membeli tenun ikat lebih dari satu. Saya sih, sering tidak berhasil. Haha! Oh ya, dianjurkan untuk datang pagi-pagi agar Anda puas berkeliling berbelanja dan pilihan motif tenun masih banyak. Inilah beberapa pasar yang perlu disinggahi saat plesiran di Flores:

  1. Pasar Geliting, Kewapante, Kabupaten Sikka: setiap Jumat
  2. Pasar Alok, Maumere, Kabupaten Sikka: setiap Selasa
  3. Pasar Lekebai, Kabupaten Sikka: setiap Sabtu
  4. Pasar Desa Jopu, Kabupaten Ende: setiap Kamis
  5. Pasar Danga di Mbay, Kabupaten Nagekeo: setiap Sabtu

Selain pasar-pasar di atas, beberapa pasar tradisional yang buka setiap hari dan ada yang menjual kain tenun di antaranya adalah:

  1. Pasar Alok, Maumere (ada beberapa penjual tenun, tapi jumlah tidak sebanyak saat hari pasar).
  2. Pasar Jalan Niaga, Ende, Kabupaten Ende.
  3. Pasar Bajawa, Kabupaten Ngada
  4. Pasar Inpres Ruteng, Kabupaten Manggarai

Anda pun bisa mengunjungi beberapa sanggar atau kelompok penenun yang biasanya juga mempunyai persediaan kain tenun untuk siap dijual. Nah, untuk yang satu ini, Anda perlu kontak sebelumnya dan ditemani pemandu lokal agar tidak kesasar. Oh ya, saat Anda ingin membeli tenun ikat dengan pewarna organik, sementara Anda bingung membedakan antara tenun warna organik dengan kimia, satu hal yang paling mudah dilihat adalah warna kimia selalu terlihat lebih terang. Istilah tepatnya, terlihat “ngejreng”. Bila kuning, terlihat sangat kuning. Tidak lembut seperti pada pewarna organik. Atau bila merah, hasil warnanya akan mencolok. Demikian juga dengan hasil warna-warna yang lain. Masih bingung juga, rasanya saya siap menjadi pemandu Anda selama berburu tenun ikat di Flores. Tapi jangan salahkan bila saya pun lagi-lagi terpikat dan tak segan berebut tenun ikat dengan Anda! Ups!

 

(Tulisan ini dimuat di Kalstar Inflight Magazine Edisi Maret-April, Halaman 12-20)

Advertisements