Salah satu destinasi yang sedang naik daun saat ini adalah Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Apalagi setelah Deklarasi Komodo sebagai salah satu dari “Tujuh Keajaiban Alam Baru se-Dunia (New Seven Wonders of Nature)” pada tahun 2011. Tidak hanya mengangkat Pulau Komodo dan sekitarnya, “branding” tersebut juga membuat tempat-tempat wisata lain dari timur ke barat Flores menjadi makin dikenal oleh wisatawan. Baik wisatawan domestik dan internasional, angka kunjungan terlihat makin naik setiap tahunnya.

Tak lengkap rasanya ke Flores bila hanya berkunjung melihat komodo di Pulau Komodo dan Rinca. Danau Kelimutu di Kabupaten Ende pun wajib dikunjungi. Eh, masih ada lagi Kampung Bena, Wae Rebo. Wah, ternyata memang Flores menawarkan berbagai tempat-tempat wisata menarik dengan berbagai jenis wisata yang berbeda.

Nah, bila Anda adalah tipikal wisatawan yang selalu mencari yang “off the beaten track” atau wisata petualangan yang tak biasa dan inginnya blusukan dan “nyasar”, Flores menawarkan banyak jalur menarik dengan banyak hal unik yang dapat Anda temui di sepanjang perjalanan Anda. Kuncinya, hati dan pikiran yang terbuka, fisik yang sehat wal afiat, bekal yang cukup, dan jangan pelit-pelit dengan waktu cuti Anda.

Mau tahu beberapa tempat menarik dan menantang untuk blusukan dan nyasar di Flores, mari ikutin perjalanan saya saat saya bertugas di Flores.

Waturaka, ricefields

Desa Waturaka, Kabupaten Ende

Bila Anda merencanakan ke Kelimutu, pilihan menginap biasanya di Desa Moni. Kali ini, cobalah menginap paling tidak semalam di Desa Waturaka. Terletak seperempat perjalanan ke arah Kelimutu, Desa Waturaka paling mencolok terlihat dengan hamparan sawahnya di sebelah kiri jalan. Dikembangkan dan dikelola oleh kelompok masyarakat desa sendiri dengan konsep desa eko-wisata, Anda akan ditawarkan menginap di rumah-rumah masyarakat lokal di sana.

Waturaka, selain diberkati tanah yang subur terlihat dari berbagai jenis tanaman pangan, sayur-mayur, serta berbagai jenis tanaman dagang seperti cengkeh, kopi, dan kemiri yang tumbuh menghampar, juga dikaruniai banyak sekali sumber air panas dan air terjun yang bisa dikunjungi dengan tingkat kesulitan yang cukup ringan, Murukeba namanya. Saat sore hari saya menginap di sana, saya sempatkan untuk mandi di sumber air panas di tengah sawah. Hmm…pengalaman pertama dan sangat luar biasa. Oh ya, untuk blusukan sehari ke sumber air panas dan sekaligus air terjun, pastikan Anda memakai alas kaki yang nyaman dan tidak licin saat menapak langkah. Jangan khawatir dengan lintah yang biasanya lebih banyak saat musim hujan dan ke arah air terjun, cukup sediakan air tembakau untuk mengusir lintah yang terlanjur menempel di anggota badan kita. Ada pengalaman menarik saya saat kembali dari Murukeba, dimana jalurnya adalah masuk kebun orang desa yang ditanami kopi dan kemiri, saya menemukan gumpalan biji kopi. Saya tunjukkan gumpalan itu ke pemandu ke Om (sebutan akrab dan hormat untuk laki-laki dewasa) Pius, pemandu lokal, dan ternyata itulah adalah gumpalan kopi dari kotoran musang atau luwak! Akhirnya saya tahu juga seperti apa kopi luwak langsung dari alam.

Curious Series-TiwuSora

Danau Tiwu Sora, Kabupaten Ende

Masih di Kabupaten Ende, memuaskan rasa ingin tahu akan mitos sebuah danau berwarna kehitaman dan dihuni oleh jenis belut raksasa sebesar paha orang dewasa yang kononnya penjelmaan dari nenek moyang masyarakat setempat, ditemani oleh Om Goris Ngera, Kepala Desa Deturia, akhirnya saya berombongan dengan kawan-kawan pergi ke sana.

Kami berangkat dari Maumere, Kabupaten Sikka, menuju arah Kota Baru, Kabupaten Ende, jalur pantura. Inilah jalan termudah, meskipun tidak bisa dikatakan mudah karena dari pertigaan Tobilota menuju Desa Pise yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu dekat menjadi lama hanya karena kondisi jalan yang memprihatinkan. Dibutuhkan kehati-hatian dan kesabaran menyusuri jalur ini. Disarankan berangkat pagi hari dan mengatur janji sebelumnya untuk ojek motor menuju ke sana.

Sesampainya di Pise, istirahatlah sejenak meluruskan badan karena setelah ini, untuk menuju Desa Deturia, desa terdekat dimana Danau Tiwu Sora berada, kita akan menempuh kurang lebih empat jam perjalanan kaki. Tapi jangan khawatir, perjalanan ini akan terasa menarik karena satu jam pertama kita akan melewati sabana dan perkebunan masyarakat. Betul sekali, masyarakat di sini masih suka membuka kebun jauh dari pemukiman. Satu jam berikutnya, kita akan memasuki hutan desa. Saat musim hujan, banyak sekali kita temui aliran sungai dan sumber air yang sejuknya bukan main. Kami sempat menadah di botol untuk minum di perjalanan. Saat pagi hari, berbagai jenis kicauan burung menemani perjalanan di hutan yang banyak ditumbuhi pohon kenari dan berbagai jenis pohon endemik Flores. Keluar dari hutan, inilah pemandangan favorit saya, kita akan disuguhi dengan pemandangan sabana dengan puluhan ekor sapi, kerbau, dan kuda yang dibiarkan merumput dengan liar. Kami serasa berada di lokasi film Lord of the Rings. Indah sekali! Lepas dari sabana, satu jam perjalanan kaki menuju Desa Deturia, desa dimana berdiam suku Lio Utara, suku Lio adalah suku terbesar di kabupaten Ende, yang adatnya tidak diperkenankan membuat kain tenun ikat. Berada di Deturia, serasa kita berada di wilayah antah berantah karena sangat luasnya. Tidak heran karena dalam bahasa Lio, detu berarti lapangan, ria adalah besar. Deturia berarti lapangan besar.

Menuju Tiwu Sora, perjalanan ditempuh kembali selama satu jam. Bagi para tamu, sebuah upacara kecil dihelat sebelum menuju danau. Sebuah kalung dari sejenis rumput dikalungkan oleh tetua adat sebagai bentuk doa meminta keselamatan karena Tiwu Sora dalam adat masyarakat Deturia adalah danau yang dikeramatkan. Sesampainya di Danau, kalung rumput kita lemparkan ke tengah danau. Tentang belut raksasa, ternyata bukan mitos. Dengan upacara tertentu yang biasanya dilaksanakan setahun sekali, masyarakat memanggil belut tersebut untuk naik ke permukaan air dan menangkapnya untuk dimakan beramai-ramai.

IMG_20140515_085224

Air Terjun Kembar Murusobe, Kabupaten Sikka

Menjelajah ke air terjun Murusobe, ada dua jalur yang bisa ditempuh. Disarankan berangkat pagi-pagi, dari Maumere menuju arah Ende, ada jalur menuju Desa Lekebai atau Feyondari. Jalur ini bisa ditempuh dengan menggunakan mobil. Saat pertama datang ke sana, tidak banyak masyarakat tahu akan air terjun Murusobe. Saat ini, masyarakat sudah cukup mengetahui dan tentu ini mempermudah bagi yang akan ke sana. Tanyakan ke arah Desa Wolofeo hingga sampai ke Loke. Di sinilah desa terakhir mobil harus diistirahatkan karena perjalanan selanjutnya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Cukup dua-tiga perjalanan dengan pemandangan hijau dan alam luar biasa, sampailah kita di Desa Poma. Disarankan untuk mampir ke rumah kepala desa untuk minta ijin sekaligus meminta pemandu untuk penunjuk jalan ke Murusobe. Jangan kaget kehadiran kita akan menarik banyak orang desa, terutama anak-anak, untuk mengikuti perjalanan kita yang membuat seru blusukan ke Murusobe ini.

Jalur kedua dan cukup menantang, disarankan juga berangkat pagi sekali, adalah setelah bermalam di Deturia. Ya, setelah Anda blusukan di Tiwu Sora, saatnya meneruskan perjalanan Anda menuju Murusobe. Perjalanan awal akan banyak ditempuh dengan menanjak sebelum masuk hutan. Tentu saja Anda memerlukan pemandu lokal untuk menembus hutan dengan jalur naik-turun yang seru menantang selama empat-lima jam ini. Ada satu tempat dimana Anda bisa mengambil foto Danau Tiwu Sora dari ketinggian. Pemandangan yang menakjubkan dan juga membuat dada berdesir karena saking tingginya. Melewati titik ini, kita akan naik menuju hutan berikutnya dimana di sanalah batas wilayah Kabupaten Ende dan Sikka berada. Menembus hutan ini, bila Anda suka hutan, banyak sekali ditemukan tanaman endemik Flores, diantaranya anggrek bambu dan bunga Bulbophyllum optusipetalum.Perjalanan blusukan dan nyasar di Flores, meski kudu sabar dan memakan waktu, pengalamannya sangat luar biasa.

Bagi Anda yang berminat untuk menjelajahi Flores dan ingin informasi yang lebih banyak untuk tempat-tempat di atas dan juga tempat-tempat lain yang patut dijadikan blusukan, silakan kunjungi situs DMO (Destination Management Organisation) Flores di http://www.florestourism.com atau bertanya langsung dengan petugasnya di info@florestourism.com.

 

 

Advertisements